Saya Tidak akan Memilih…


Oleh: Reza A.A Wattimena

Sebentar lagi, Indonesia akan memilih para pemimpinnya. Sekali lagi, kita melakukan pemilihan umum. Tradisi demokrasi yang utuh dan sehat hendak dibangun. Kita tidak boleh gagal melakukannya. Masa depan kita sebagai bangsa menjadi taruhannya.

Demokrasi adalah cara hidup yang tidak sekali jadi. Ia harus menjadi tradisi dan budaya bangsa kita sebagai keseluruhan. Ancaman terbesarnya sekarang ada dua, yakni kapitalisme global ekstrem yang menciptakan kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin, dan radikalisme agama kematian dari tanah gersang yang memperbodoh bangsa.

Kesadaran dan Akal Sehat

Yang mesti terus diingat, dalam politik, tak ada yang sempurna. Tak ada pemimpin yang sempurna. Tak ada juga rakyat yang sempurna. Kita memilih yang terbaik dari berbagai kemungkinan yang ada.

Di 2024 ini, kita harus mencegah bajingan menjadi pemimpin. Ada beberapa tipe yang langsung terlihat jelas. Ada yang terlibat langsung dengan radikalisme agama kematian dari tanah gersang. Ada yang sudah jelas pelaku penculikan dan bocah perusak konstitusi.

Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya akan terus mengingatkan, betapa pentingnya tiga hal berikut, yakni kesadaran, ketajaman akal sehat dan kejernihan nurani. Ketiganya tidak hanya panduan di dalam memilih presiden, tetapi juga dalam kehidupan secara keseluruhan. Maka, sebelum memilih pemimpin, ada empat hal yang perlu diperhatikan.

Saya Tidak akan Memilih…

Pertama, saya tidak akan memilih pemimpin yang mengandalkan propaganda. Propaganda, sejatinya, adalah kebohongan yang terus dilontarkan kepada masyarakat, dan dibungkus sebagai kebenaran. Banyak orang terpengaruh olehnya. Dengan berbagai cara, setan dipoles dan dibungkus menjadi seolah seperti malaikat.

Dua, saya tidak akan memilih pelaku penculikan dan pembunuhan. Bangsa kita memiliki banyak manusia yang bermutu. Mengapa harus memilih pelaku penculikan dan pembunuhan? Si penculik hanya jualan propaganda, dan tidak memiliki hak serta kemampuan untuk memimpin.

Tiga, saya tidak akan memilih bocah ingusan perusak konstitusi. Ini adalah bocah yang hidup dari bayang-bayang orang tuanya yang korup. Tidak ada prestasi nyata. Yang ada hanyalah kebusukan moral yang mengangkangi konstitusi belaka. Orang semacam ini sama sekali tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Empat, saya tidak akan memilih orang yang bermain mata dengan kelompok radikal agamis. Jelas, orang semacam ini tidak bisa dipercaya. Omongannya terlihat manis. Namun, hatinya busuk, dan menyembunyikan maksud licik yang sungguh merusak.

Saya tidak akan memilih keempat orang tersebut. Sisanya siapa? Itulah yang mesti dipilih. Cukup jelas dan sederhana, bukan?

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama